Mengelola stok bukan hanya soal memastikan barang selalu tersedia, tetapi juga tentang seberapa cepat stok tersebut berputar.
Banyak bisnis mengalami masalah tanpa menyadarinya, stok menumpuk terlalu lama hingga mengikat modal, atau sebaliknya, stok terlalu cepat habis sehingga berisiko kehabisan barang saat permintaan tinggi. Di sinilah inventory turnover menjadi metrik penting untuk menilai kesehatan pengelolaan stok.
Inventory turnover membantu bisnis memahami apakah perputaran stok sudah efisien, terlalu lambat (overstock), atau justru terlalu cepat (understock).
Dengan memahami cara menghitung dan membaca angka inventory turnover, pelaku bisnis dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait replenishment, pengelolaan gudang, hingga strategi fulfillment.
Artikel ini akan membahas konsep inventory turnover secara sederhana, cara menghitungnya, serta benchmark ideal di berbagai industri sebagai referensi awal.
Table of contents
- 1 Apa Itu Inventory Turnover dan Kenapa Penting?
- 2 Rumus Inventory Turnover
- 3 Contoh Perhitungan Inventory Turnover
- 4 Cara Membaca Angka Inventory Turnover: Overstock vs Understock
- 5 Benchmark Inventory Turnover untuk Berbagai Industri (Sebagai Referensi Awal)
- 6 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Inventory Turnover
- 7 Menggunakan Inventory Turnover sebagai Dasar Keputusan Replenishment
- 8 Peran Fulfillment dalam Menjaga Inventory Turnover Tetap Sehat
- 9 Kesalahan Umum Saat Mengukur Inventory Turnover
Apa Itu Inventory Turnover dan Kenapa Penting?
Inventory turnover adalah metrik yang menunjukkan seberapa sering stok barang terjual dan digantikan kembali dalam periode tertentu. Sederhananya, metrik ini membantu bisnis menjawab pertanyaan: apakah stok saya bergerak dengan sehat atau justru tersendat?
Jika inventory turnover terlalu rendah, artinya barang terlalu lama berada di gudang. Kondisi ini sering dikaitkan dengan overstock, modal yang tertahan, dan risiko barang usang atau tidak terjual.
Sebaliknya, jika inventory turnover terlalu tinggi, bisnis memang terlihat agresif menjual stok, tetapi bisa menghadapi risiko understock, kehabisan barang, dan potensi kehilangan penjualan.
Karena itu, inventory turnover bukan soal mengejar angka setinggi mungkin, melainkan menemukan keseimbangan antara ketersediaan stok, biaya penyimpanan, dan kecepatan pemenuhan pesanan. Metrik ini sering digunakan sebagai indikator awal untuk mengevaluasi performa gudang, strategi replenishment, dan kesiapan fulfillment.
Rumus Inventory Turnover
Secara umum, rumus inventory turnover adalah:
Inventory Turnover = Cost of Goods Sold (COGS)/Rata-rata Persediaan
Agar tidak membingungkan, mari kita uraikan satu per satu.
- Cost of Goods Sold (COGS): Total biaya barang yang terjual dalam periode tertentu (misalnya 1 bulan atau 1 tahun). Fokus pada biaya barang, bukan omzet.
- Rata-rata Persediaan: Nilai rata-rata stok dalam periode yang sama, biasanya dihitung dengan rumus:
(Stok Awal + Stok Akhir)/2
Penting untuk menggunakan periode yang konsisten. Jika COGS dihitung tahunan, maka rata-rata persediaan juga harus tahunan. Konsistensi ini penting agar hasilnya tidak menyesatkan.
Contoh Perhitungan Inventory Turnover
Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan contoh sederhana.
Misal, sebuah bisnis memiliki data sebagai berikut:
- COGS selama 1 tahun: Rp1.200.000.000
- Nilai stok awal tahun: Rp300.000.000
- Nilai stok akhir tahun: Rp300.000.000
Langkah pertama adalah menghitung rata-rata persediaan:
(Rp300.000.000 + Rp300.000.000)/2 = Rp300.000.000
Kemudian masukkan ke rumus inventory turnover:
Inventory Turnover = Rp1.200.000.000/Rp300.000.000 = 4
Artinya, dalam satu tahun, stok bisnis tersebut berputar sebanyak 4 kali. Dengan kata lain, rata-rata stok habis dan tergantikan setiap 3 bulan sekali.
Angka ini belum bisa langsung dinilai baik atau buruk sebelum dibandingkan dengan konteks industri dan model bisnis. Namun dari sini, bisnis sudah memiliki dasar untuk menganalisis apakah perputaran stoknya terlalu lambat atau terlalu cepat.
Cara Membaca Angka Inventory Turnover: Overstock vs Understock
Setelah mendapatkan angka inventory turnover, langkah berikutnya adalah membaca maknanya. Di tahap ini, banyak bisnis keliru karena menilai angka secara hitam-putih. Padahal, angka yang “baik” sangat bergantung pada konteks.
- Angka inventory turnover rendah: Umumnya menandakan overstock. Artinya, stok bergerak lambat dan terlalu lama tersimpan di gudang. Dampaknya bisa berupa modal tertahan, biaya penyimpanan meningkat, hingga risiko barang tidak terjual.
- Angka inventory turnover tinggi: Bisa berarti stok bergerak cepat dan penjualan sehat. Namun jika terlalu tinggi, ini juga bisa menjadi tanda understock, di mana bisnis berisiko kehabisan barang saat permintaan meningkat.
Contoh sederhana:
- Inventory turnover = 2 → stok rata-rata habis setiap 6 bulan (indikasi lambat untuk banyak industri).
- Inventory turnover = 10 → stok habis setiap ±1,2 bulan (bisa sehat untuk FMCG, tapi berisiko untuk barang bernilai tinggi).
Karena itu, membaca inventory turnover harus mempertimbangkan:
- Lead time pemasok
- Pola permintaan (seasonality)
- Model penjualan (B2C vs B2B)
Benchmark Inventory Turnover untuk Berbagai Industri (Sebagai Referensi Awal)
Benchmark membantu bisnis menilai posisinya dibanding praktik umum di industri. Perlu diingat, angka berikut bersifat indikatif, bukan target mutlak.
- FMCG/Grocery: Inventory turnover cenderung tinggi karena produk cepat terjual dan masa simpan pendek.
Kisaran umum: 8 s/d 12 kali per tahun - Fashion/Apparel: Dipengaruhi kuat oleh seasonality. Terlalu tinggi bisa berisiko stockout saat musim puncak.
Kisaran umum: 3 s/d 6 kali per tahun - Elektronik & Gadget: Nilai barang tinggi dan siklus produk spesifik.
Kisaran umum: 2 s/d 4 kali per tahun - B2B/Industrial Goods: Volume besar, lead time panjang, dan penjualan berbasis proyek.
Kisaran umum: 1 s/d 3 kali per tahun
Benchmark ini sebaiknya digunakan sebagai pembanding awal, lalu disesuaikan dengan kondisi bisnis masing-masing, bukan sebagai patokan kaku.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Inventory Turnover
Angka inventory turnover tidak berdiri sendiri. Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi cepat atau lambatnya perputaran stok.
- Akurasi demand forecasting: Perkiraan permintaan yang meleset akan langsung berdampak pada stok berlebih atau kekurangan.
- Panjang lead time pemasok: Semakin lama lead time, bisnis cenderung menahan stok lebih banyak sebagai buffer.
- Seasonality dan promosi: Lonjakan permintaan musiman dapat mengubah inventory turnover secara drastis dalam periode tertentu.
- Akurasi data stok: Data yang tidak real-time membuat keputusan replenishment tidak presisi.
- Proses gudang dan fulfillment: Proses picking, packing, dan pengiriman yang lambat bisa memperlambat perputaran stok meskipun permintaan tinggi.
Memahami faktor-faktor ini membantu bisnis melihat inventory turnover bukan sekadar angka, tetapi sebagai cerminan dari keseluruhan proses operasional.
Menggunakan Inventory Turnover sebagai Dasar Keputusan Replenishment
Setelah memahami angka inventory turnover dan konteks industrinya, langkah penting berikutnya adalah menggunakannya untuk pengambilan keputusan replenishment. Di tahap ini, metrik tidak lagi bersifat informatif saja, tetapi menjadi alat bantu operasional.
Secara praktis, bisnis dapat menggunakan inventory turnover untuk menjawab pertanyaan berikut:
- Kapan waktu yang tepat untuk restock?
- Berapa jumlah restock yang ideal?
- Produk mana yang perlu diprioritaskan?
Contoh penerapan:
Jika sebuah SKU memiliki inventory turnover 2 kali per tahun, sementara target industri berada di kisaran 4-5 kali, ini bisa menjadi sinyal bahwa stok terlalu lama tersimpan.
Bisnis dapat mengevaluasi ulang jumlah replenishment, menyesuaikan frekuensi pemesanan, atau mengurangi stok untuk SKU tersebut.
Sebaliknya, jika inventory turnover terlalu tinggi dan sering terjadi stockout, bisnis perlu mempertimbangkan peningkatan safety stock atau mempercepat siklus replenishment.
Di sini, keputusan sebaiknya tidak didasarkan pada satu periode saja, melainkan tren inventory turnover dari waktu ke waktu (month-over-month atau year-over-year).
Peran Fulfillment dalam Menjaga Inventory Turnover Tetap Sehat
Angka inventory turnover yang ideal sulit dicapai tanpa dukungan operasional yang rapi. Proses fulfillment, mulai dari penyimpanan, picking, packing, hingga pengiriman, berperan langsung dalam menjaga perputaran stok tetap lancar.
Fulfillment yang terstruktur membantu bisnis:
- menjaga visibilitas stok yang lebih akurat,
- memproses pesanan dengan lebih cepat,
- mengurangi penumpukan barang slow-moving,
- merespons lonjakan permintaan tanpa mengganggu operasional.
Dengan dukungan layanan fulfillment Biteship, bisnis dapat mengelola stok dan pemrosesan pesanan dalam satu alur yang terintegrasi. Barang disimpan secara teratur, status stok lebih mudah dipantau, dan proses pengiriman berjalan lebih konsisten.
Kondisi ini membantu bisnis menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan kecepatan perputaran stok, sehingga inventory turnover dapat dijaga pada level yang lebih sehat.
Kesalahan Umum Saat Mengukur Inventory Turnover
Sebelum menutup analisis, penting untuk memahami beberapa kesalahan umum yang sering terjadi saat mengukur inventory turnover:
- Menggunakan omzet penjualan alih-alih COGS, sehingga angka terlihat lebih tinggi dari kondisi sebenarnya.
- Menghitung inventory turnover dengan periode yang tidak konsisten.
- Tidak memisahkan analisis per SKU, sehingga produk fast-moving dan slow-moving tercampur.
- Mengabaikan faktor seasonality dan lead time pemasok.
Menghindari kesalahan ini membantu bisnis mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kondisi stoknya.
Inventory turnover bukan sekadar angka keuangan, melainkan panduan untuk menilai efisiensi pengelolaan stok.
Dengan memahami cara menghitung, membaca, dan membandingkannya dengan benchmark industri, bisnis dapat mengetahui apakah stok bergerak terlalu lambat, terlalu cepat, atau sudah berada di jalur yang tepat.
Ketika metrik ini digunakan sebagai dasar keputusan replenishment dan didukung oleh proses fulfillment yang terstruktur, bisnis dapat menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang, biaya operasional, dan kepuasan pelanggan.
Di sinilah peran fulfillment yang rapi, seperti yang ditawarkan oleh Biteship, menjadi bagian penting dalam menjaga perputaran stok tetap sehat seiring pertumbuhan bisnis.




