Dalam bisnis e-commerce, banyak perusahaan berfokus pada peningkatan penjualan dan akuisisi pelanggan, tetapi belum mengetahui secara pasti berapa biaya yang dikeluarkan untuk memproses satu pesanan. Padahal, tanpa mengetahui biaya tersebut, perusahaan akan kesulitan mengevaluasi profitabilitas dan mengambil keputusan bisnis yang tepat. Lalu, tahukah Anda cara menghitung biaya fulfillment per order?
Jika belum, artikel ini akan mengulas secara lengkap komponen biaya fulfillment, rumus dan cara perhitungannya, serta contoh kalkulasi yang dapat diterapkan untuk berbagai skala bisnis.
Key takeaways:
- Biaya fulfillment per order (Cost Per Order/CPO) adalah total biaya fulfillment bulanan yang dibagi dengan total pesanan bulanan.
- Komponen biaya fulfillment meliputi pengeluaran untuk sewa ruang simpan, upah tim operasional, material packing, pengiriman, penanganan barang retur, serta sistem dan teknologi pendukung.
- Perusahaan juga perlu memperhitungkan hidden cost, seperti kerusakan barang, downtime saat peak season, penalti marketplace, dan biaya peluang.
Komponen Biaya Fulfillment yang Perlu Dihitung
Sebelum mengetahui cara menghitung biaya fulfillment per order, pastikan Anda sudah memahami komponen biaya operasional. Adapun beberapa komponen biaya tersebut yaitu:
1. Biaya Penyimpanan Barang
Jika menggunakan gudang sendiri, komponen biaya gudang e-commerce mencakup sewa gudang, listrik dan utilitas, rak penyimpanan, keamanan, serta perawatan fasilitas.
Sementara itu, jika menggunakan penyedia fulfillment atau 3PL (Third-Party Logistics), biaya penyimpanan dihitung berdasarkan kapasitas yang digunakan, seperti jumlah slot penyimpanan, pallet, volume barang, atau luas area penyimpanan. Selain itu, besarnya biaya juga tergantung pada durasi penyimpanan dan layanan tambahan seperti labeling, repacking, atau penanganan khusus.
2. Biaya SDM Operasional
Proses fulfillment melibatkan berbagai aktivitas, seperti penerimaan barang, penyimpanan stok, picking, packing, administrasi pesanan, dan quality control. Oleh karena itu, biaya SDM perlu diperhitungkan, termasuk gaji, tunjangan, bonus, serta biaya pelatihan dan rekrutmen staf gudang maupun operasional.
3. Biaya Material Packing
Biaya material packing sering kali terlewat dalam perhitungan fulfillment, padahal nilainya dapat meningkat seiring bertambahnya volume pesanan. Komponen biaya ini mencakup berbagai kebutuhan packing, seperti kardus, bubble wrap, lakban, label pengiriman, poly mailer, hingga invoice atau materi promosi yang ditaruh di paket.
Meski terlihat kecil, biaya packing rata-rata Rp3.000–Rp5.000 per order dapat menjadi pengeluaran yang signifikan ketika perusahaan memproses ribuan pesanan setiap bulan.
4. Biaya Pengiriman
Biaya pengiriman atau ongkir merupakan salah satu komponen terbesar dalam fulfillment. Besarnya biaya dipengaruhi oleh berat dan dimensi paket, lokasi tujuan, jenis layanan, serta kurir yang digunakan. Karena itu, perusahaan perlu memilih layanan pengiriman yang paling sesuai untuk mengoptimalkan biaya operasional.
5. Biaya Retur
Biaya retur sering kali terlewat dalam perhitungan fulfillment, padahal setiap pengembalian produk dapat menimbulkan biaya tambahan, seperti ongkos kirim balik, pemeriksaan barang, repacking, dan restocking inventaris. Jika tingkat retur cukup tinggi, biaya ini dapat berdampak signifikan pada profitabilitas bisnis, sehingga perlu dihitung.
6. Biaya Sistem dan Teknologi
Operasional fulfillment modern umumnya didukung oleh berbagai sistem, seperti Warehouse Management System (WMS), Order Management System (OMS), integrasi marketplace, dan dashboard inventaris. Untuk itu, biaya langganan serta pengelolaan sistem ini perlu dimasukkan ke dalam perhitungan karena berperan penting dalam menjaga efisiensi dan akurasi operasional.
Rumus Dasar Cost Per Order (CPO)
Cara menghitung biaya fulfillment per order sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu menggunakan rumus berikut.
Cost Per Order (CPO) = Total Biaya Fulfillment Bulanan : Total Order Bulanan
Sebagai contoh, jika total biaya fulfillment per bulan mencapai Rp15.000.000,00 dan jumlah pesanan yang diproses sebanyak 500 order, maka:
CPO = Rp15.000.000,00 : 500 = Rp30.000,00 per order
Artinya, perusahaan mengeluarkan biaya sebesar Rp30.000,00 untuk setiap pesanan yang diproses dan dikirim kepada pelanggannya.
Contoh Perhitungan Berdasarkan Skala Bisnis
Untuk membantu Anda memahami cara menghitung biaya fulfillment per order, berikut beberapa contoh perhitungan berdasarkan skala bisnis yang berbeda.
1. Bisnis Kecil
Misalnya, sebuah bisnis kecil memproses 200 order per bulan dengan biaya gudang sebesar Rp2.500.000,00, biaya SDM Rp2.000.000,00, biaya packing dan pengiriman Rp800.000,00, serta biaya sistem Rp500.000,00. Berapa biaya fulfillment untuk setiap pesanannya?
Perhitungan:
Total biaya fulfillment bulanan = Rp2.500.000,00 + Rp2.000.000,00 + Rp800.000,00 + Rp500.000,00 = Rp5.800.000,00
CPO = Total biaya fulfillment bulanan : Total order bulanan = Rp5.800.000,00 : 200 = Rp29.000,00 per order.
Artinya, perusahaan mengeluarkan biaya fulfillment rata-rata sebesar Rp29.000,00 untuk setiap pesanan yang diproses dan dikirim kepada pelanggan.
2. Bisnis Menengah
Misalnya, sebuah bisnis menengah memproses 1.000 order per bulan dengan biaya gudang sebesar Rp5.000.000,00, biaya SDM Rp6.000.000,00, biaya packing dan pengiriman Rp4.000.000,00, serta biaya sistem Rp1.000.000,00. Berapa biaya fulfillment untuk setiap pesanannya?
Perhitungan:
Total biaya fulfillment bulanan = Rp5.000.000,00 + Rp6.000.000,00 + Rp4.000.000,00 + Rp1.000.000,00 = Rp16.000.000,00
CPO = Total biaya fulfillment bulanan : Total order bulanan
CPO = Rp16.000.000,00 : 1.000 = Rp16.000,00 per order
Artinya, perusahaan mengeluarkan biaya fulfillment rata-rata sebesar Rp16.000,00 untuk setiap pesanan.
3. Bisnis Berkembang
Misalnya, sebuah bisnis yang sedang berkembang memproses 3.000 order per bulan dengan biaya gudang sebesar Rp10.000.000,00, biaya SDM Rp15.000.000,00, biaya packing dan pengiriman Rp9.000.000,00, serta biaya sistem Rp2.000.000,00. Berapa biaya fulfillment untuk setiap pesanannya?
Perhitungan:
Total biaya fulfillment bulanan = Rp10.000.000,00 + Rp15.000.000,00 + Rp9.000.000,00 + Rp2.000.000,00 = Rp36.000.000,00
CPO = Total biaya fulfillment bulanan : Total order bulanan
CPO = Rp36.000.000,00 : 3.000 = Rp12.000,00 per order
Artinya, perusahaan mengeluarkan biaya fulfillment rata-rata sebesar Rp12.000,00 untuk setiap pesanan.
Meski biaya per order tersebut cenderung lebih rendah, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan biaya tersembunyi seperti pengelolaan gudang, tenaga kerja, teknologi, dan risiko operasional. Karena itu, layanan 3PL dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memungkinkan perusahaan lebih fokus pada pertumbuhan bisnis.
Hidden Cost yang Sering Terlupakan
Selain biaya operasional yang terlihat secara langsung, terdapat beberapa hidden cost yang dapat membuat biaya fulfillment per order lebih tinggi dari perkiraan. Berikut beberapa biaya tersembunyi yang sering terlewat dalam perhitungan fulfillment.
- Kerusakan atau kehilangan barang, yang menyebabkan biaya penggantian stok dan potensi kehilangan pendapatan.
- Downtime saat peak season, yang dapat memicu keterlambatan pengiriman, penumpukan order, dan meningkatnya biaya operasional.
- Penalti dari marketplace, akibat tidak terpenuhinya standar layanan sehingga berdampak pada denda, performa toko, dan peluang penjualan.
- Biaya peluang (opportunity cost), yang timbul ketika waktu dan sumber daya manajemen lebih banyak tersita untuk operasional fulfillment dibanding aktivitas strategis seperti pemasaran, ekspansi, dan pengembangan produk.
Kapan CPO Menunjukkan Kamu Harus Beralih ke 3PL?
Tidak ada angka pasti CPO yang mengharuskan perusahaan beralih ke Third-Party Logistics (3PL). Namun, menurut Blue Sense Digital, bisnis umumnya perlu mulai mempertimbangkan 3PL ketika memproses lebih dari 500 pesanan per bulan atau saat biaya operasional gudang internal melebihi 3% dari total pendapatan perusahaan.
Selain itu, beberapa indikator berikut juga bisa menunjukkan bahwa operasional fulfillment internal mulai kurang efisien sehingga perlu beralih ke 3PL, antara lain:
- CPO terus meningkat meskipun volume pesanan bertambah.
- Kapasitas gudang mulai mencapai batas maksimum.
- Tingkat kesalahan picking dan packing meningkat.
- Tim manajemen terlalu fokus pada operasional harian.
- Pengiriman sering terlambat saat peak season.
Jika kondisi tersebut mulai terjadi, layanan 3PL dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional tanpa perlu menambah investasi besar pada gudang, teknologi, maupun tenaga kerja.
Kelola Fulfillment Lebih Efisien Bersama Biteship
Memahami cara menghitung biaya fulfillment per order merupakan langkah penting untuk mengukur efisiensi operasional dan menjaga profitabilitas bisnis e-commerce. Perhitungan ini mencakup berbagai komponen biaya, mulai dari penyimpanan barang, SDM, packing, pengiriman, retur, hingga teknologi pendukung, termasuk berbagai hidden cost yang sering terlewat.
Namun, seiring meningkatnya volume pesanan, mengelola fulfillment secara internal dapat menjadi semakin kompleks dan memakan banyak sumber daya. Untuk itulah, memakai layanan 3PL seperti Warehouse & Fulfillment dari Biteship bisa menjadi rekomendasi terbaik untuk bisnis e-commerce.
Melalui layanan ini, perusahaan dapat mengelola seluruh proses fulfillment dalam satu ekosistem terintegrasi, mulai dari penyimpanan barang, pengelolaan inventaris secara real-time, proses picking dan packing, hingga pengiriman melalui berbagai pilihan kurir.
Apalagi, didukung teknologi dan jaringan logistik yang luas, Biteship dapat membantu bisnis Anda mengurangi beban operasional, meningkatkan akurasi pemrosesan pesanan, serta menjaga kualitas layanan kepada pelanggan. Jadi, dengan layanan ini, Anda tidak hanya akan menekan biaya, tetapi juga mendukung pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan. Tertarik memakai layanan 3PL andal? Hubungi tim Biteship sekarang!




