Pertanyaan klasik setiap pebisnis adalah kapan waktu restock yang benar-benar ideal? Restock sendiri bukan sekadar mengisi ulang produk jualan, melainkan keputusan strategis yang berdampak langsung pada kelancaran penjualan dan arus kas perusahaan.
Agar lebih terarah, Anda pun bisa menerapkan strategi restock inventori yang mempertimbangkan beberapa faktor, seperti safety stock, lead time supplier, serta pola belanja konsumen. Dengan begitu, setiap restock bisa dilakukan tepat waktu tanpa membuat gudang overstock. Mari pahami lebih dalam lewat ulasan berikut!
Key Takeaways:
- Restock sebaiknya dilakukan saat stok mendekati level minimum, bukan menunggu benar-benar habis. Dengan begitu, penjualan tetap berjalan lancar tanpa risiko kehilangan pelanggan.
- Ada beberapa faktor penting yang memengaruhi keputusan restock, mulai dari safety stock, lead time supplier, tren musiman, SKU fast-moving, hingga campaign besar.
- Fulfillment Biteship menghadirkan sistem manajemen pergudangan modern dengan laporan SKU detail dan notifikasi real-time, membuat seller tidak lagi perlu mengandalkan feeling untuk menentukan restock.
Table of contents
Mengapa Penentuan Waktu Restock Sangat Penting?
Menentukan kapan waktu restock adalah langkah penting dalam menjaga kelancaran operasional bisnis. Sebab, jika proses pembaharuan persediaan dilakukan terlalu cepat, modal bisa menumpuk di gudang. Sebaliknya, jika isi ulang terlambat, peluang penjualan bisa hilang karena stok habis di momen penting.
Menurut Ninja Xpress, restock yang tepat waktu akan menjaga ketersediaan barang sekaligus mengurangi risiko kehilangan pelanggan akibat stok kosong. Itulah mengapa memahami kapan restock barang menjadi dasar strategi inventori yang sehat.
Faktor Penentu Kapan Restock Barang
Isi ulang persediaan produk tentunya memerlukan strategi, bukan asal isi ulang ketika barang habis. Jika dapat memahami faktor penentunya, seller bisa lebih terukur dan efisien. Berikut penjelasannya.
1. Safety Stock
Safety stock adalah stok minimum yang wajib dijaga agar produk tidak pernah benar-benar habis. Dengan adanya safety stock, seller akan memiliki cadangan untuk menghadapi lonjakan permintaan mendadak maupun keterlambatan pengiriman.
2. Lead Time Supplier
Lead time adalah waktu tunggu dari pemesanan hingga barang tiba di gudang. Mengetahui lead time supplier sangat penting agar Anda bisa memperkirakan kapan waktu restock yang paling ideal, sehingga stok tidak habis di tengah masa tunggu pengiriman.
3. Tren Musiman
Permintaan produk biasanya meningkat saat momen tertentu, seperti saat Ramadan, dan Lebaran. Seller yang memahami pola musiman ini bisa menyiapkan stok lebih awal agar tidak kehilangan peluang penjualan besar.
4. SKU Fast-Moving
Produk dengan rotasi tinggi atau sering laku terjual memerlukan perhatian ekstra. Jika tidak dihitung dengan cermat, Anda bisa salah memperkirakan waktu isi ulang persediaan, dan akibatnya stok cepat habis tanpa cadangan.
5. Campaign Besar (11.11/12.12)
Event belanja besar seperti 11.11 atau 12.12 selalu menimbulkan lonjakan order masif. Seller pun harus menyiapkan restock jauh sebelum campaign berlangsung agar produk selalu tersedia dan bisa bersaing dengan kompetitor.
Metode Praktis Menentukan Restock
Menentukan restock tidak bisa asal tebak. Salah satu metode yang banyak dipakai sendiri adalah Reorder Point (ROP) dengan formula sebagai berikut.
ROP = (Lead Time × Rata-Rata Pemakaian Harian) + Safety Stock.
Seperti dikutip dari Tekno Banget, rumus tersebut menjadi panduan praktis agar bisnis tidak kekurangan barang di waktu krusial.
Sebagai contoh, penelitian pada UMKM Sambel Juragan menemukan bahwa ROP cabai ada di angka 13,2 kg dengan safety stock 3,43 kg. Kesimpulannya, metode ini mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan bahan baku cabai di UMKM dibandingkan menggunakan stok manual.
Solusi Modern dalam Strategi Restock Inventori
Mengandalkan feeling untuk menentukan kapan waktu restock sering membuat seller salah langkah. Karena itu, solusi dengan strategi yang lebih terukur dan berbasis data sangat penting agar operasional tetap efisien.
1. Sistem Real-Time Tracking
Menggunakan sistem fulfillment modern seperti Biteship dapat memberi keuntungan besar. Seller bisa melihat laporan pergerakan SKU secara detail, mulai dari produk mana yang cepat habis hingga yang jarang keluar. Fitur notifikasi otomatis juga akan memberi peringatan lebih awal ketika ada tanda stok harus diisi ulang.
Lewat real-time tracking, seller pun tidak perlu menunggu stok benar-benar habis. Sebab, data yang akurat akan membuat keputusan isi ulang stok lebih tepat sasaran, mengurangi risiko kehilangan pelanggan, dan memberi kepastian dalam perencanaan inventori.
2. Restock Berbasis Data
Keputusan isi ulang stok berbasis data akan membuat seller lebih percaya diri dalam menentukan waktu restock yang ideal. Data historis penjualan, tren musiman, dan laporan SKU bisa Anda jadikan acuan, dan bukan hanya sekadar perasaan. Ini akan membantu meminimalkan risiko kesalahan yang bisa mengganggu jalannya bisnis.
Selain itu, strategi berbasis data juga dapat memberi keunggulan kompetitif. Seller bisa lebih gesit menyiapkan stok untuk momen penting, menjaga kepuasan pelanggan, serta memastikan operasional berjalan lebih efisien tanpa pemborosan.
Data Jadi Senjata Utama Restock, Biteship Solusinya!
Kesuksesan bisnis ditentukan oleh pemahaman kapan waktu restock yang tepat. Tentu saja, untuk penentuannya, Biteship dapat membantu seller mengambil keputusan lebih cerdas dengan sistem yang rapi dan terintegrasi. Lewat layanan gudang penyimpanan modern Biteship, proses restock jadi lebih efisien dan bebas dari kebingungan.
Sebab, terdapat laporan real-time dan notifikasi stok menipis yang memberi kendali penuh pada seller. Bahkan proses distribusi pun lebih mudah, karena terdapat dukungan dari berbagai layanan kurir terpercaya. Barang pun dapat terlacak dengan mudah. Mari beralih ke sistem yang lebih pintar bersama Biteship!




