Pentingnya Website untuk Brand Milik Sendiri sebagai Aset Bisnis

Pentingnya Website untuk Brand Milik Sendiri sebagai Aset Bisnis

Saat ini, sebagian besar brand mengandalkan lokapasar (marketplace) dan media sosial seperti TikTok dan Instagram dalam operasional bisnisnya. Meskipun efektif, platform pihak ketiga tetap memiliki batasan yang membatasi ruang kendali brand dibandingkan dengan memiliki website untuk brand milik sendiri.

Karena itu, website milik sendiri bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi penting bagi brand yang ingin tumbuh secara berkelanjutan.

Key Takeaways:

  • Lokapasar dan media sosial bukan channel milik brand, sehingga bisnis rentan terhadap perubahan algoritma, biaya, dan kebijakan platform.
  • Website untuk brand berperan sebagai owned channel yang memberi kontrol atas pengalaman brand, data pelanggan, dan arah pemasaran.
  • Sebagai aset digital, website mendukung pertumbuhan berkelanjutan, diversifikasi channel, dan scaling bisnis tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak ketiga.

Apakah Channel Brand Anda Benar-benar Milik Anda?

Di balik aktivitas penjualan yang ramai di lokapasar dan media sosial, terdapat satu pertanyaan yang sering terlewat: apakah brand benar-benar memiliki channel tersebut?

Saat berjualan melalui platform pihak ketiga, brand beroperasi dalam ekosistem yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali sendiri. Algoritma, kebijakan, dan infrastruktur ditentukan oleh platform, sementara setiap perubahan dapat berdampak langsung pada kinerja bisnis.

Brand membutuhkan ruang yang memungkinkan kontrol atas pengalaman pelanggan, konsistensi komunikasi, dan arah pertumbuhan jangka panjang. Di sinilah website untuk brand berperan sebagai channel milik sendiri yang memberi stabilitas dan fleksibilitas. 

Berbagai Risiko Ketergantungan pada Platform Pihak Ketiga

Ketergantungan pada lokapasar dan media sosial sebagai kanal utama penjualan menimbulkan sejumlah risiko yang perlu Anda pahami.

1. Algoritma Berubah, Visibilitas Terganggu

Perubahan algoritma di lokapasar atau media sosial dapat memengaruhi visibilitas produk Anda. Produk yang sebelumnya tampil di posisi atas bisa terdorong jauh ke bawah, memicu penurunan traffic dan penjualan tanpa ruang intervensi yang berarti dari brand.

2. Biaya Akuisisi Semakin Meningkat

Seiring bertumbuhnya kompetisi, biaya iklan di platform pihak ketiga terus meningkat. Brand perlu mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk hasil yang sama, sehingga ROI menurun dan margin keuntungan semakin tertekan.

3. Kepemilikan Data Pelanggan Terbatas

Di lokapasar dan media sosial, platform menguasai data pelanggan seperti email, preferensi, dan perilaku belanja. Keterbatasan akses ini menghambat brand dalam membangun strategi pemasaran jangka panjang yang lebih personal, termasuk campaign retensi dan loyalitas.

4. Kebijakan Platform Berubah Sepihak

Platform dapat mengubah komisi, aturan operasional, hingga kebijakan akun tanpa pemberitahuan sebelumnya. Brand tidak memiliki ruang negosiasi, sementara dampaknya langsung terasa pada operasional dan profitabilitas bisnis.

Pentingnya Website sebagai Owned Channel Modern

Melihat berbagai risiko yang muncul ketika brand hanya bergantung pada platform pihak ketiga, kebutuhan akan owned channel menjadi semakin jelas. Owned channel adalah properti digital yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan oleh brand, dan website brand online merupakan bentuk paling fundamental dari channel tersebut.

Dengan memiliki website bisnis sendiri, bisnis tidak lagi bergantung pada algoritma pihak ketiga, kebijakan yang berubah-ubah, atau struktur komisi yang terus meningkat. 

Melalui website untuk brand milik sendiri, brand dapat:

  • Mengomunikasikan identitas dan nilai brand dengan konsisten
  • Membangun pengalaman pelanggan yang lebih terarah dan personal
  • Mengelola serta memiliki data pelanggan, seperti email, preferensi, dan riwayat pembelian

Namun, pemahaman mengenai owned channel dan strategi digital lainnya membutuhkan referensi yang kuat. Pelaku usaha perlu mengeksplorasi berbagai sumber yang membahas strategi digital jangka panjang agar membangun ekosistem digital tidak hanya berlandaskan teori, tetapi juga praktik yang berkelanjutan. 

Setelah strategi siap, brand dapat mulai membangun website bisnis yang andal. Pada tahap ini, infrastruktur pendukung website bisnis yang tepat menjadi penting untuk memastikan website dapat mendukung operasional secara aman, stabil, dan terukur.

Nilai Strategis Website untuk Brand dalam Jangka Panjang

Memiliki website milik sendiri memberikan sejumlah manfaat strategis yang sulit dicapai jika hanya mengandalkan platform pihak ketiga.

1. Kontrol Penuh atas Brand Experience

Anda dapat menentukan bagaimana pelanggan melihat produk, bagaimana informasi disajikan, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand Anda. Tidak ada intervensi pihak ketiga yang dapat mengubah pengalaman ini secara sepihak.

2. Kepemilikan Data Pelanggan

Website memungkinkan brand mengelola data pelanggan seperti email, preferensi belanja, dan perilaku browsing secara langsung. Data ini bisa Anda gunakan untuk mengembangkan personalisasi rekomendasi produk atau program loyalitas.

3. Fleksibilitas Strategi Pemasaran

Dengan website, Anda tidak terbatas oleh format atau kebijakan platform. Anda bisa menjalankan berbagai strategi, mulai dari content marketing hingga SEO, yang semuanya berkontribusi pada pertumbuhan organik jangka panjang.

4. Aset Jangka Panjang yang Terus Berkembang

Website adalah aset yang terus bertumbuh nilainya. Setiap konten, interaksi pelanggan, dan sinyal kepercayaan yang dibangun akan memperkuat nilai website dari waktu ke waktu.

5. Fondasi untuk Diversifikasi dan Scaling Bisnis

Ketika website mulai berkembang sebagai kanal penjualan, brand memiliki infrastruktur yang solid untuk ekspansi. Dengan begitu, penambahan kategori produk, peluncuran program loyalitas, atau integrasi dengan channel penjualan lain dapat dilakukan dengan lebih terukur.

Pada tahap ini, dukungan operasional seperti sistem fulfillment dan logistik yang terintegrasi menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas layanan. Agar seluruh manfaat tersebut dapat dirasakan secara optimal, website untuk brand perlu mempunyai sumber daya dan infrastruktur yang memadai sejak awal.

Sejauh Mana Brand Anda Memiliki Kendali atas Channel?

Pada akhirnya, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab setiap brand: Apakah Anda sudah memiliki owned channel yang solid? Atau apakah bisnis Anda masih terlalu bergantung pada lokapasar dan media sosial?

Jika Anda belum memiliki website, inilah waktu yang tepat untuk memulai. Namun, jika website sudah ada tetapi belum dimanfaatkan secara optimal, inilah saatnya mengevaluasi perannya sebagai pusat ekosistem digital brand.

Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu proses evaluasi:

  • Berapa persentase penjualan yang berasal dari lokapasar dibandingkan dengan owned channel?
  • Seberapa banyak data pelanggan yang Anda tidak bisa akses karena keterbatasan platform pihak ketiga?
  • Apa dampaknya bagi bisnis Anda jika platform utama mengubah kebijakan atau algoritmanya?

Untuk memperdalam pemahaman strategi owned channel secara lebih holistik, brand dapat mempelajari berbagai perspektif tambahan. Salah satunya melalui sumber seperti DewaTalks, yang membahas strategi bisnis digital dan pengembangan brand di era modern.

Pada akhirnya, brand yang mampu bertahan dan tumbuh adalah mereka yang tidak bergantung pada satu platform saja, melainkan membangun ekosistem digital yang terdiversifikasi, dengan website untuk brand sebagai pusat kendalinya.

*Artikel ini merupakan hasil kolaborasi antara Biteship dan Dewatalks.

Biteship
Tim kami terdiri dari praktisi logistik, pelaku bisnis, dan marketer yang berdedikasi membantu bisnis tumbuh melalui solusi pengiriman dan fulfillment.