Pertumbuhan platform ecommerce Indonesia semakin berakselerasi. Data terbaru menyebutkan bahwa nilai pasar ecommerce Indonesia mencapai nilai 104 miliar pada 2026 ini. Yang lebih menarik, ternyata ada banyak bisnis lokal yang membuat website ecommerce tanpa developer. Lantas, bagaimana caranya?
Ulasan kami kali ini akan menjelaskan secara singkat dan padat mengenai hal tersebut. Lengkapnya, simak pembahasannya di bawah ini!
Kesalahan Umum dalam Membangun Website e-Commerce dan Solusinya
Meski saat ini membuat website e-commerce menjadi perkara yang lebih mudah, masih banyak bisnis masih gagal dalam memaksimalkan potensinya. Hal tersebut kebanyakan disebabkan oleh beberapa kesalahan mendasar berikut ini. Namun, impact-nya besar terhadap conversion rate dan pengalaman pengguna.
1. Kecepatan Website
Kecepatan website adalah salah satu faktor kritikal dalam langkah membuat website ecommerce. Pasalnya, hal ini sangat berkaitan dengan pengalaman pengguna. Bahkan, landmark studi dari Google menyebutkan bahwa peningkatan waktu muat laman website hingga 1–3 detik bisa meningkatkan probabilitas bounce rate hingga 32%.
Data lain juga menunjukkan bahwa keterlambatan waktu muat website (kecepatan 1 detik lebih lambat) bisa menyebabkan penurunan konversi hingga 4,42%. Dengan kata lain, semakin lambat website Anda, maka semakin tinggi probabilitas pengunjung untuk pergi sebelum melakukan pembelian atau transaksi.
Namun, masalah kecepatan website pada dasarnya bukan perkara yang sulit untuk ditangani. Anda bisa memaksimalkan waktu muat website dengan beberapa langkah sederhana berikut ini.
- Gunakan hosting berkualitas tinggi.
- Optimasi ukuran gambar.
- Mengaktifkan caching menggunakan Content Delivery Network (CDN) untuk mempercepat akses dari berbagai lokasi.
2. Tidak Mobile-First
Dengan lebih dari 70% transaksi e-commerce terjadi melalui smartphone, mobile first menjadi salah satu task wajib. Mobile first di sini bukan hanya soal responsivitas tampilan, tapi bagaimana desain dan elemen website memberi pengalaman optimal kepada pengguna mobile.
Untuk membuat website ecommerce lebih mengarah ke konsep mobile first, ada beberapa praktik sederhana yang bisa Anda terapkan, di antaranya adalah:
- Gunakan pendekatan mobile first dalam desain.
- Memberi navigasi yang mudah digunakan dalam satu tangan.
- Menempatkan CTA yang jelas.
- Memastikan proses checkout nyaman di berbagai resolusi layar, khususnya layar smartphone kecil.
3. Checkout Terlalu Kompleks
Proses checkout yang terlalu kompleks atau panjang adalah salah salah satu penyebab utama tingginya fenomena cart abandonment di website ecommerce. Pengguna cenderung meninggalkan website yang tidak memudahkan proses checkout, seperti tahapan yang panjang atau ada banyak data yang harus dilengkapi.
Guna membuat proses checkout di website ecommerce menjadi lebih sederhana, ada beberapa praktik dasar yang bisa Anda terapkan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
- Membuat proses checkout menjadi dalam satu laman (one page checkout).
- Aktifkan guest checkout.
- Minimalkan field dan pengisian data yang tidak penting.
4. Opsi Pengiriman Terbatas
Setiap pelanggan pada dasarnya memiliki preferensi pengiriman yang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan pengiriman cepat, ada juga yang lebih memilih pengiriman standar, namun dengan ongkir murah. Jika pilihan pengiriman yang tersedia terbatas, maka hal tersebut bisa menggugurkan keinginan pelanggan untuk membeli.
Untuk mengatasinya, menggunakan sistem integrasi multi kurir menjadi solusi paling ideal. Sistem ini memungkinkan pelanggan untuk memilih opsi pengiriman sesuai kebutuhan.
5. Ongkir Tidak Transparan
Biaya pengiriman di akhir proses checkout kerap menjadi shock factor bagi pelanggan. Jika ongkir di website ecommerce tidak transparan, maka hal ini bisa menjadi salah satu alasan utama pembatalan transaksi.
Agar kesalahan dasar ini tidak terjadi di website ecommerce Anda, pastikan untuk menampilkan estimasi ongkir secara real time sejak awal (di laman produk atau cart). Jadi, pelanggan bisa mendapat gambaran biaya total sebelum melakukan checkout. Perbaikan ini juga bisa menunjukkan bahwa bisnis ecommerce Anda transparan dan terpercaya.
6. Tidak Ada Tracking yang Jelas
Ecommerce + integrasi pengiriman adalah dua hal yang sulit dipisahkan di dunia bisnis modern hari ini. Pasalnya, tanpa integrasi pengiriman yang mumpuni, bisnis akan sulit memberi informasi status pesanan pelanggan secara real time.
Jika dilema status pesanan pelanggan ini tidak ditangani dengan baik, maka kepercayaan terhadap bisnis Anda bisa menurun. Solusi sederhana untuk mengatasinya adalah mengintegrasikan sistem tracking pengiriman yang memungkinkan pelanggan mengetahui status pesanannya.
7. Tidak Memanfaatkan Integrasi Otomatis
Meskipun teknologi AI dan automation hari ini bukan lagi menjadi barang baru di dunia bisnis, masih banyak bisnis yang mengelola operasional mereka secara manual. Hal ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga meningkatkan terjadinya kesalahan operasional akibat human error.
Demi menghindarkan bisnis Anda dari kondisi ini, menggunakan API dan plugin ecommerce terbaik untuk mengotomatisasi proses pengiriman, tracking, dan manajemen pesanan dalam satu sistem terintegrasi menjadi solusi paling ideal.
Optimalkan Pengalaman Bisnis untuk Customer Journey dan Konversi Lebih Baik
Dengan dukungan plugin dan platform ecommerce terbaik yang hadir hari ini, membuat website ecommerce tanpa developer bukanlah lagi perkara sulit. Namun, tantangan sebenarnya dari bisnis ecommerce sebenarnya dimulai saat operasional pengiriman berjalan.
Bisnis dituntut untuk bisa mengelola operasional pengiriman dengan optimal guna memberi pengalaman terbaik kepada pelanggan. Di sini, Biteship bisa menjadi partner yang membantu hal tersebut.
Dengan menghadirkan plugin pengiriman Shopify dan plugin pengiriman WooCommerce, kami menawarkan kemudahan pengelolaan operasional pengiriman website ecommerce. Kedua plugin ini dirancang dengan konsep plug-and-play dengan konfigurasi sederhana. Hal ini memungkinkan Anda untuk bisa mengoptimalkan sistem pengiriman tanpa hambatan teknis.
Selain itu, integrasi plugin ini juga menyediakan lebih dari 30 pilihan kurir, opsi pengiriman lengkap, fitur cek ongkir otomatis, hingga tracking real time. Saatnya optimalkan operasional pengiriman website ecommerce Anda dengan dukungan plugin ecommerce terbaik dari Biteship. Coba sekarang!
FAQ
Apakah bisa membuat website ecommerce tanpa developer?
Ya. Anda bisa membuat website ecommerce tanpa coding dengan memanfaatkan platform Shopify atau plugin WooCommerce (WordPress). Keduanya sudah menyediakan sistem siap pakai atau no-code/low-code platform yang memungkinkan pembangunan website dengan teknologi visual drag and drop.
Apa platform untuk membuat ecommerce untuk pemula?
Shopify paling praktis untuk pemula karena sudah termasuk hosting dan setup cepat. WooCommerce juga menjadi salah satu platform e-commerce berbasis cloud yang menawarkan fleksibilitas tinggi.
Berapa biaya membuat website ecommerce tanpa coding di Shopify?
Mulai dari Rp450.000,00 per bulan untuk hosting atau langganan platform. Harga ini jauh lebih murah ketimbang membangun atau membuat website custom dengan developer.
Apa tantangan utama membuat website ecommerce tanpa developer?
Biasanya, tantangan utama ketika membuat website ecommerce tanpa developer terletak pada proses optimasi performa, checkout, dan pengirimannya. Namun, Anda bisa mengatasinya dengan menggunakan plugin dan integrasi otomatis agar proses tetap efisien.




