Omzet Besar tapi Profit Kecil? Ini Biaya Bisnis Online yang Sering Terlewat

Omzet Besar tapi Profit Kecil? Ini Biaya Bisnis Online yang Sering Terlewat

Anda punya bisnis online dengan omzet puluhan juta rupiah setiap bulan? Jangan buru-buru menganggap bisnis sudah menghasilkan banyak keuntungan. Pasalnya, omzet besar belum tentu berarti profit besar.

Dalam bisnis online, ada banyak biaya yang perlu dikeluarkan selain modal untuk membeli atau memproduksi produk.

Ada biaya marketplace, packaging, pengiriman, iklan, hingga biaya retur yang jika tidak diperhitungkan dapat menggerus keuntungan.

Karena itu, Anda perlu mengetahui seluruh biaya bisnis online yang muncul dalam operasional sehari-hari. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui berapa profit sebenarnya dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan kondisi keuangan yang lebih akurat.

Mengapa Omzet Besar Belum Tentu Berarti Profit Besar?

Omzet adalah total nilai penjualan yang diperoleh bisnis dalam periode tertentu. Sementara itu, profit merupakan keuntungan yang tersisa setelah pendapatan dikurangi berbagai biaya.

Misalnya, sebuah toko online mencatat omzet Rp30 juta dalam satu bulan. Angka tersebut memang terlihat besar. Namun, jika toko tersebut mengeluarkan Rp15 juta untuk HPP, Rp3 juta untuk iklan, Rp1,5 juta untuk biaya marketplace, dan berbagai biaya lainnya, keuntungan yang tersisa tentu jauh lebih kecil.

Kesalahan yang cukup umum terjadi adalah menganggap selisih antara harga jual dan harga beli produk sebagai keuntungan akhir. Padahal, masih ada banyak biaya bisnis online yang harus diperhitungkan.

Semakin banyak transaksi yang terjadi, semakin penting bagi bisnis untuk mengidentifikasi dan mencatat seluruh biaya tersebut.

Apa Saja Biaya Bisnis Online yang Sering Terlewat?

Berikut beberapa biaya yang perlu diperhatikan ketika menjalankan bisnis online.

1. Harga Pokok Produk (HPP)

HPP merupakan salah satu komponen biaya utama yang harus diperhitungkan. Untuk bisnis reseller, HPP dapat berupa harga pembelian barang dari supplier. Sementara pada bisnis manufaktur atau bisnis yang memproduksi produknya sendiri, HPP dapat mencakup bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi lainnya.

Mengetahui HPP membantu Anda menentukan margin dari setiap produk yang terjual. Tanpa perhitungan HPP yang tepat, Anda bisa saja menjual produk dengan harga yang terlihat menguntungkan, padahal marginnya sangat tipis.

2. Biaya Marketplace dan Payment Gateway

Berjualan melalui marketplace memang memudahkan bisnis menjangkau lebih banyak pelanggan. Namun, ada biaya yang perlu diperhitungkan, seperti biaya administrasi, komisi, layanan tambahan, atau biaya transaksi.

Hal yang sama berlaku ketika bisnis menggunakan payment gateway. Biaya transaksi mungkin terlihat kecil pada setiap pesanan, tetapi jika dikumpulkan dari ratusan atau ribuan transaksi, nilainya dapat cukup besar.

Karena itu, biaya tersebut sebaiknya masuk dalam perhitungan profit, bukan dianggap sebagai pengeluaran yang terpisah.

3. Biaya Pengemasan

Packaging merupakan biaya yang sering luput dari perhitungan, terutama ketika nominalnya relatif kecil untuk setiap pesanan.

Kardus, bubble wrap, polymailer, lakban, label, dan berbagai perlengkapan lainnya tetap menjadi bagian dari biaya bisnis. Misalnya, biaya packaging rata-rata Rp3.000 per pesanan. Jika dalam satu bulan ada 1.000 pesanan, biaya packaging sudah mencapai Rp3 juta.

Artinya, semakin tinggi volume penjualan, semakin penting untuk memperhitungkan biaya packaging secara rutin.

4. Biaya Pengiriman

Pengiriman menjadi bagian penting dalam operasional bisnis online. Biayanya dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ongkos kirim yang ditanggung bisnis, subsidi ongkir, hingga biaya pengiriman untuk kebutuhan retur.

Jika bisnis memberikan subsidi ongkir kepada pelanggan, misalnya, selisih biaya tersebut pada akhirnya menjadi beban bisnis. Jika tidak dicatat, profit yang terlihat di laporan bisa lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.

Untuk membantu mengelola proses pengiriman, Anda dapat memanfaatkan platform seperti Biteship yang membantu mengelola kebutuhan pengiriman dari berbagai layanan logistik. Dengan pengelolaan pengiriman yang lebih terstruktur, bisnis juga lebih mudah mengevaluasi biaya logistik yang dikeluarkan.

Baca juga: 7 Cara Menghitung Ongkir Bisnis Online yang Efisien

5. Biaya Iklan dan Promosi

Iklan memang dapat membantu meningkatkan penjualan, tetapi biaya yang dikeluarkan tetap harus diperhitungkan ketika menghitung profit.

Biaya ini dapat berasal dari marketplace ads, iklan media sosial, influencer, voucher, diskon, maupun program promosi lainnya.

Jangan hanya melihat apakah sebuah kampanye berhasil meningkatkan omzet. Perhatikan juga berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang benar-benar dihasilkan setelah biaya promosi diperhitungkan.

6. Biaya Retur dan Pesanan Bermasalah

Retur merupakan risiko yang cukup umum dalam bisnis online. Ketika pelanggan mengembalikan barang, bisnis mungkin harus menanggung biaya pengiriman retur, pemeriksaan produk, pengemasan ulang, hingga potensi kerugian apabila barang tidak dapat dijual kembali.

Selain retur, biaya juga dapat muncul dari pesanan gagal dikirim, barang rusak, atau kesalahan pemenuhan pesanan.

Walaupun tidak terjadi pada setiap transaksi, biaya seperti ini tetap perlu diperhitungkan dalam pengelolaan keuangan bisnis.

7. Biaya Operasional Lainnya

Selain biaya yang berhubungan langsung dengan pesanan, bisnis juga memiliki biaya operasional lain, seperti sewa gudang, gaji karyawan, listrik, internet, software, administrasi, dan kebutuhan operasional lainnya.

Masing-masing mungkin terlihat sebagai pengeluaran terpisah. Namun, jika dijumlahkan, biaya tersebut dapat memberikan pengaruh besar terhadap profit bisnis.

Bagaimana Cara Menghitung Profit Bisnis Online?

Setelah mengetahui berbagai biaya yang muncul, langkah berikutnya adalah menghitung profit secara lebih realistis.

Secara sederhana, rumusnya adalah:

Profit = Omzet – HPP – Total Biaya Operasional

Sebagai contoh, sebuah toko online memperoleh omzet Rp30 juta dalam satu bulan. Berikut biaya yang dikeluarkan:

Komponen Biaya
HPP Rp15.000.000
Marketplace & payment fee Rp1.500.000
Packaging Rp500.000
Subsidi ongkir Rp1.000.000
Iklan Rp3.000.000
Retur & biaya lainnya Rp500.000
Total biaya Rp21.500.000

Maka: Profit = Rp30.000.000 – Rp21.500.000 = Rp8.500.000

Dari contoh tersebut, bisnis memang menghasilkan omzet Rp30 juta. Namun, keuntungan yang sebenarnya hanya Rp8,5 juta.

Itulah mengapa omzet sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator ketika mengevaluasi kinerja bisnis.

Bagaimana Cara Mengontrol Biaya Bisnis Online?

Mengetahui jenis biaya saja belum cukup. Pemilik bisnis juga perlu mengontrolnya agar biaya tidak berkembang tanpa disadari.

  • Catat Semua Pemasukan dan Pengeluaran

Biasakan mencatat setiap transaksi bisnis, termasuk pengeluaran yang nominalnya kecil. Pencatatan yang konsisten membantu Anda mengetahui ke mana uang bisnis digunakan.

Daripada mengandalkan catatan manual yang mudah tercecer, Anda dapat menggunakan aplikasi akuntansi untuk mencatat transaksi sekaligus memantau kondisi keuangan bisnis.

Aplikasi akuntansi seperti Kledo dapat membantu bisnis mencatat pemasukan dan pengeluaran serta menghasilkan laporan keuangan sehingga pemilik bisnis dapat memantau performa keuangan dengan lebih mudah. Salah satunya adalah laporan arus kas yang membantu pemilik bisnis melihat aliran uang masuk dan keluar selama periode tertentu.

  • Hitung Profit Secara Berkala

Jangan menunggu akhir tahun untuk mengetahui apakah bisnis menghasilkan keuntungan. Lakukan evaluasi secara rutin, misalnya setiap bulan.

Dengan begitu, Anda dapat segera mengetahui jika margin mulai menurun atau ada biaya tertentu yang meningkat.

  • Evaluasi Biaya Pengiriman

Biaya pengiriman juga perlu dievaluasi secara berkala, terutama jika bisnis memiliki volume pesanan yang tinggi.

Bandingkan biaya pengiriman berdasarkan jenis layanan, tujuan, dan kebutuhan pelanggan. Pengelolaan pengiriman yang lebih terintegrasi dapat membantu bisnis mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai aktivitas dan biaya logistik.

Untuk membantu mengelola proses pengiriman, bisnis dapat menggunakan platform pengiriman Biteship yang membantu mengelola kebutuhan pengiriman dari berbagai layanan logistik. Dengan proses pengiriman yang lebih terstruktur, bisnis juga lebih mudah mengevaluasi biaya logistik yang dikeluarkan.

  • Bedakan Produk yang Laris dan Produk yang Menguntungkan

Produk dengan penjualan tinggi belum tentu memberikan profit terbesar. Bisa saja produk tersebut memiliki HPP tinggi, membutuhkan packaging khusus, atau sering mendapatkan diskon dan subsidi ongkir.

Karena itu, evaluasi sebaiknya tidak hanya berdasarkan jumlah produk yang terjual, tetapi juga margin yang dihasilkan.

  • Jangan Hanya Kejar Omzet, Pantau Profit Bisnis

Omzet memang penting untuk menunjukkan seberapa besar penjualan yang berhasil diperoleh bisnis. Namun, angka tersebut belum memberikan gambaran lengkap mengenai kesehatan bisnis.

HPP, biaya marketplace, packaging, pengiriman, iklan, retur, dan biaya operasional lainnya perlu diperhitungkan agar Anda mengetahui profit sebenarnya.

Dengan pencatatan keuangan yang rapi dan pengelolaan operasional yang terstruktur, Anda sebagai pemilik bisnis dapat lebih mudah melihat biaya mana yang perlu dikendalikan dan peluang mana yang dapat dikembangkan.

*Artikel ini hasil kerjasama Kledo dan Biteship

Punya

Ratusan / Ribuan

Kiriman Setiap Hari?

Satu platform, beragam layanan pengiriman dan logistik

Web Dashboard

Pergudangan & Pengemasan

Dilengkapi Kurir Instant

Plugin Pengiriman

Integrasi API Pengiriman

Mendukung beragam layanan pengiriman

GojekJNEJNTTIKI

Terintegrasi dengan channel marketplace

TokopediaLazadaTiktokShopee

Mau Pengiriman Jadi Jauh Lebih Efektif?

Dapatkan potongan harga untuk pengiriman lebih banyak, #kirimlebihbanyak bersama Biteship!