Perbedaan Lost Sales vs Out-of-Stock Rate dan Dampaknya

Perbedaan Lost Sales vs Out-of-Stock Rate dan Dampaknya

Dalam dunia bisnis, terutama yang bergerak di sektor retail dan e-commerce, kondisi kehabisan stok menjadi tantangan besar yang bisa mempengaruhi performa penjualan. Memahami perbedaan lost sales vs out-of-stock rate sangat penting agar Anda bisa menjaga arus penjualan tetap sehat dan mengoptimalkan manajemen stok.

Pasalnya, meski terdengar mirip, keduanya memiliki definisi dan dampak yang berbeda. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

Key Takeaways

  • Lost sales terjadi ketika permintaan pelanggan tidak terpenuhi akibat stok habis, sehingga berdampak langsung pada hilangnya pendapatan dan loyalitas pelanggan.
  • Out-of-stock (OOS) rate adalah metrik operasional yang mengukur persentase produk kosong dalam inventori dan berfungsi sebagai indikator kesehatan manajemen stok.
  • Singkatnya, lost sales adalah akibat, sedangkan out-of-stock rate adalah penyebab atau indikator awal dari masalah manajemen stok.

Definisi Lost Sales

Lost sales adalah penjualan yang hilang ketika permintaan dari pelanggan tidak terpenuhi karena stok kosong. Misalnya, seorang pelanggan ingin membeli produk tertentu, namun produk tersebut tidak tersedia di gudang atau toko. Akibatnya, transaksi batal terjadi dan potensi pendapatan pun hilang.

Lost sales dapat mengurangi pendapatan secara langsung. Selain itu, kondisi ini juga bisa berdampak pada loyalitas pelanggan. Konsumen yang kecewa karena produk tidak tersedia bisa beralih ke kompetitor. Inilah alasan mengapa lost sales sering menjadi indikator kritis dalam strategi penjualan.

Definisi Out-of-Stock (OOS) Rate

Berbeda dengan lost sales, out-of-stock rate berfungsi sebagai metrik operasional. OOS rate mengukur persentase produk yang habis dalam inventori pada periode tertentu. Rumus sederhana untuk menghitung out-of-stock rate adalah:

OOS Rate = (Jumlah Produk Out-of-Stock / Total permintaan) x 100%

Dengan kata lain, OOS rate memberi gambaran seberapa baik manajemen inventori Anda berjalan. Semakin tinggi angka out-of-stock, semakin sering stok produk habis dan menunjukkan kelemahan dalam perencanaan stok.

Perbedaan Lost Sales vs Out-of-Stock Rate

Meski berkaitan erat, perbedaan OOS rate dan lost sales cukup mendasar, mulai dari cakupan fokus, fungsi, dan dampaknya. Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Fokus Pengukuran

Lost sales berfokus pada hasil akhir berupa hilangnya penjualan dan pendapatan. Ini menggambarkan sisi finansial dari kehabisan stok. Sedangkan OOS rate berfokus pada proses operasional berupa ketersediaan stok. Ia lebih menggambarkan seberapa baik manajemen inventori berjalan.

2. Dampak Terhadap Bisnis

Perbedaan lost sales vs out-of-stock rate juga terlihat dari dampaknya. Dampak lost sales dan OOS ke penjualan antara lain lost sales langsung memotong revenue karena transaksi batal. Setiap produk yang tidak bisa terjual berarti margin tidak masuk.

Sementara itu, out-of-stock rate tidak selalu berdampak langsung pada revenue. Namun, OOS rate menjadi indikator yang bisa memprediksi besarnya potensi lost sales. Semakin tinggi OOS rate, semakin besar kemungkinan lost sales terjadi.

3. Ruang Lingkup Analisis

Lost sales umumnya bisa Anda analisis dari sisi konsumen. Ini mengukur seberapa sering permintaan pelanggan tidak terpenuhi. Sedangkan OOS rate bisa Anda analisis dari sisi supply chain. OOS rate menilai seberapa sering sistem stok gagal memenuhi permintaan.

4. Respon yang Dibutuhkan

Untuk mengatasi lost sales, Anda perlu tindakan cepat seperti restock mendadak, redirect permintaan ke produk substitusi, atau memberi insentif agar pelanggan bersedia menunggu.

Sementara untuk mengurangi out-of-stock rate, Anda memerlukan perencanaan jangka panjang, seperti memperbaiki metode forecasting, menambah buffer stock, atau menggunakan sistem inventori otomatis agar distribusi lebih lancar.

Dengan kata lain, lost sales adalah “akibat”, sedangkan OOS rate adalah “penyebab” atau indikator awal yang menunjukkan adanya masalah di manajemen stok bisnis Anda.

Dampak Lost Sales dan Out-of-Stock Rate ke Penjualan

Lost sales vs out-of-stock rate sebenarnya saling mempengaruhi. Out-of-stock rate yang tinggi akan meningkatkan risiko lost sales, sedangkan lost sales yang sering terjadi menunjukkan bahwa OOS rate tidak terkendali.

Dampaknya, bisnis bisa mengalami kerugian ganda, yakni hilangnya pendapatan langsung dan berkurangnya loyalitas pelanggan. Lebih jauh lagi, brand bisa kehilangan momentum saat kampanye besar seperti Harbolnas atau musim liburan.

Sebaliknya, jika OOS rate rendah, maka lost sales bisa ditekan. Ini berarti perencanaan stok berjalan baik, permintaan pelanggan terpenuhi, dan pertumbuhan penjualan lebih stabil. Oleh karena itu, penting bagi bisnis untuk memantau kedua metrik ini secara bersamaan agar strategi inventori bisa berlangsung secara lebih akurat.

Optimalkan Manajemen Inventori dengan Biteship

Mengelola inventori agar terhindar dari lost sales dan out-of-stock rate yang tinggi membutuhkan sistem yang terintegrasi dan real-time. Hal ini bisa Anda wujudkan melalui dashboard fulfillment dari Biteship. Dengan sistem canggih, Anda dapat memantau metrik lost sales vs out-of-stock rate secara langsung.

Data akurat memungkinkan brand untuk mengetahui produk mana yang rawan kehabisan stok, kapan waktu tepat untuk restock, dan bagaimana strategi kampanye harus Anda jalankan agar tidak terganggu oleh masalah inventori.

Lebih dari itu, Biteship juga memberikan solusi end-to-end. Mulai dari penyimpanan produk di gudang, manajemen pesanan, hingga pengiriman ke konsumen, semuanya terhubung dalam satu ekosistem.

Dengan sistem ini, risiko lost sales bisa ditekan, pelanggan lebih puas karena pesanan selalu terpenuhi, dan bisnis Anda mampu menjaga margin tetap sehat. Jadi, jangan tunda lagi! Manfaatkan layanan Biteship sekarang juga untuk kemudahan manajemen bisnis Anda!

Biteship
Tim kami terdiri dari praktisi logistik, pelaku bisnis, dan marketer yang berdedikasi membantu bisnis tumbuh melalui solusi pengiriman dan fulfillment.